PEMBANGKIT
LISTRIK
Pembangkit Listrik
adalah stasiun di mana listrik di hasilkan. Biasanya listrik di bangkitkan
distasiun pembangkit listrik thermal, yaitu pembangkit listrik yang mengubah
tenaga panas menjadi energi listrik. Di stasiun tersebut, listrik
dibangkitkan dengan menggunakan berbagai bahan bakar. Bahan bakar yang banyak
di gunakan untuk membangkitkan listrik adalah bahan bakar fosil seperti
batubara. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, kini banyak sekali
pembangkit listrik yang menggunakan bahan baku yang diperbaharui. Seperti
pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Pengetahuan manusia
berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Demi untuk menjaga keseimbangan
alam dan mencegah kerusakan lingkungan lebih para lagi akibat dari eksploitasi
sumber daya alam yang tidak bisa di perbaharui sebagai sumber energi, kini para
ilmuwan mencari dan menciptakan sumber energi alternative yang ramah lingkungan
dan dapat di perbaharui. Sumber energi ini di ciptakan atau di hasilkan di
pusat-pusat pembangkit tenaga listrik yang tersebar di berbagai tempat di mana
di temukan energi potensial yang bisa di rubah menjadi energi listrik. Berikut
ini adalah jenis-jenis pembangkit listrik yang dapat menghasilkan energi
listrik untuk memenuhi kebutuhan akan energi.
Syarat
pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
Untuk melakukan
pembangunan Pembangkit Listik Tenaga Air (PLTA), harus memiliki izin
pembangunan terlebih dahulu.
1. airnya
cukup kemudian ada beda tinggi, jadi dengan adanya beda tinggi, bisa untuk
menggerakkan turbin buat listrik. Nantinya kualitas air ada tiga, ada
kuantitas, kualitas, terus daya. Karena itu kita sebutnya sumber daya air.
2. Waduk
atas dan waduk bawah.
Kekhususan PLTA pompa yang
membedakannya dengan PLTA konvensional adalah PLTA jenis ini memerlukan dua
buah waduk dalam pengoperasiannya, yaitu waduk atas dan waduk bawah. Pada saat
beban rendah dilakukan pengoperasian pompa untuk menaikkan air dari waduk bawah
ke waduk atas. Sebaliknya pada saat beban puncak maka air yang berada di waduk
atas di alirkan ke waduk bawah untuk memutar turbin yang menggerakkan generator
dan menghasilkan energi listrik.
3. Persyaratan
elevasi turbin dan pompa.
Secara teknis harus diperhitungkan
agar letak pompa/turbin harus pada elevasi yang lebih rendah dari elevasi waduk
bawah. Dengan elevasi turbin/ pompa yang lebih rendah tersebut maka diharapkan
dapat dihindari timbulnya kavitasi yang akan menyebabkan hilangnya energi yang
besar serta kerusakan pada sudu turbin dan pompa. Terlebih-lebih pada saat
pengoperasian pompa untuk mengalirkan air dari waduk bawah ke waduk atas.
Pada saat operasi pemompaan
tersebut dipersyaratkan adanya perbedaan elevasi yang minimum antara sudu pompa
dengan elevasi air pada permukaan waduk bawah. Perbedaan elevasi minimum
tersebut dapat diperoleh dengan memperhitungkan tekanan atmosfir, tekanan uap
jenuh serta kerugian head di dalam saluran air.
4. Kapasitas
waduk dan tinggi jatuh.
Besarnya debit air (Q) dan tinggi
jatuh (H) secara langsung akan berbanding lurus dengan kapasitas terpasang
PLTA. Misalnya jika terdapat potensi debit air sebesar 115 m3 per detik dan
tinggi jatuh sebesar 237 meter, maka kapasitas terpasang yang dapat
dibangkitkan oleh PLTA tersebut adalah :
P = 9,8 x Q x H x nT x nG x nS
P – Kapasitas terpasang dalam kW
Q = Debit air, dalam m3
per detik
H = tinggi jatuh, dalam meter
nT = Effisiensi turbin,
misalnya diambil 90 %
nG = Efisiensi generator, diambil
98 %
nS = Efisiensi saluran air,
misalnya 90 %
maka, P = 9,8
x 115 x 237 x 0,90 x 0,98 x 0,90
= 212.023 kW
= 212,02 MW.
Setelah diketahui berapa debit air
yang diperlukan untuk membangkitkan listrik dengan kapasitas terpasang
tertentu, maka selanjutnya dapat diketahui berapa besar kapasitas operasi waduk
(life storage capacity) minimal yang dibutuhkan.
Rumus untuk mencari kapasitas
operasi waduk adalah sebagai berikut : (misal untuk lama operasi turbin 6 jam
per hari )
Kapasitas waduk : = 115
m3 x 3600x 6
= 2.484.000
m3
Keuntungan dari pembangunan PLTA
Pembangkit listrik tenaga air tidak "menghabiskan" air, semua air
dikembalikan ke sumber asalnya. PLTA dapat dibuat bekerja 24 jam, 7 hari
seminggu. PLTA juga adalah sumber energi yang bersih, tidak menghasilkan polusi
udarai. Pembangkit listrik, sekali di tempat, tidak menciptakan produk
sampingan limbah dalam konversi mereka. Bendungan yang dibangun juga dapat
menutup gerbang mereka dan menyimpan air untuk digunakan oleh PLTA ketika beban
tinggi.
Kerugian
Dari pembangunan PLTA
Seperti
semua pembangkit listrik, pembangkit listrik tenaga air membutuhkan biaya yang
sangat mahal untuk pembangunan, dan harus dibangun untuk standar yang sangat
tinggi. Tingginya biaya berarti bahwa pembangkit harus beroperasi untuk waktu
yang lama untuk menjadi menguntungkan. Pembangunan bendungan juga dapat
menyebabkan banjir, yang berarti lingkungan dan habitat alami hewan, dan bahkan
manusia mungkin hancur.
Pembangunan
bendungan untuk pembangkit listrik tenaga air juga dapat menyebabkan banyak
masalah akses air. Penciptaan sebuah bendungan di satu lokasi mungkin berarti
bahwa aliran sungai tersebut turun dan tidak lagi memiliki kontrol aliran air.
Hal ini dapat menjadi kontroveesi di tempat-tempat di mana negara-negara yang
bertetangga berbagi pasokan air.


