Sabtu, 28 November 2015

Pembangunan Pembangkit Listrik

PEMBANGKIT LISTRIK
Pembangkit Listrik adalah stasiun di mana listrik di hasilkan. Biasanya listrik di bangkitkan distasiun pembangkit listrik thermal, yaitu pembangkit listrik yang mengubah tenaga panas menjadi energi listrik. Di stasiun tersebut,  listrik dibangkitkan dengan menggunakan berbagai bahan bakar. Bahan bakar yang banyak di gunakan untuk membangkitkan listrik adalah bahan bakar fosil seperti batubara.  Namun seiring dengan perkembangan teknologi, kini banyak sekali pembangkit listrik yang menggunakan bahan baku yang diperbaharui. Seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Pengetahuan manusia berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Demi untuk menjaga keseimbangan alam dan mencegah kerusakan lingkungan lebih para lagi akibat dari eksploitasi sumber daya alam yang tidak bisa di perbaharui sebagai sumber energi, kini para ilmuwan mencari dan menciptakan sumber energi alternative yang ramah lingkungan dan dapat di perbaharui. Sumber energi ini di ciptakan atau di hasilkan di pusat-pusat pembangkit tenaga listrik yang tersebar di berbagai tempat di mana di temukan energi potensial yang bisa di rubah menjadi energi listrik. Berikut ini adalah jenis-jenis pembangkit listrik yang dapat menghasilkan energi listrik untuk memenuhi kebutuhan akan energi.

Syarat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
Untuk melakukan pembangunan Pembangkit Listik Tenaga Air (PLTA), harus memiliki izin pembangunan terlebih dahulu.
1.      airnya cukup kemudian ada beda tinggi, jadi dengan adanya beda tinggi, bisa untuk menggerakkan turbin buat listrik. Nantinya kualitas air ada tiga, ada kuantitas, kualitas, terus daya. Karena itu kita sebutnya sumber daya air.
2.      Waduk atas dan waduk bawah.
Kekhususan PLTA pompa yang membedakannya dengan PLTA konvensional adalah PLTA jenis ini memerlukan dua buah waduk dalam pengoperasiannya, yaitu waduk atas dan waduk bawah. Pada saat beban rendah dilakukan pengoperasian pompa untuk menaikkan air dari waduk bawah ke waduk atas. Sebaliknya pada saat beban puncak maka air yang berada di waduk atas di alirkan ke waduk bawah untuk memutar turbin yang menggerakkan generator dan menghasilkan energi listrik.
3.      Persyaratan elevasi turbin dan pompa.
Secara teknis harus diperhitungkan agar letak pompa/turbin harus pada elevasi yang lebih rendah dari elevasi waduk bawah. Dengan elevasi turbin/ pompa yang lebih rendah tersebut maka diharapkan dapat dihindari timbulnya kavitasi yang akan menyebabkan hilangnya energi yang besar serta kerusakan pada sudu turbin dan pompa. Terlebih-lebih pada saat pengoperasian pompa untuk mengalirkan air dari waduk bawah ke waduk atas.
Pada saat operasi pemompaan tersebut dipersyaratkan adanya perbedaan elevasi yang minimum antara sudu pompa dengan elevasi air pada permukaan waduk bawah. Perbedaan elevasi minimum tersebut dapat diperoleh dengan memperhitungkan tekanan atmosfir, tekanan uap jenuh serta kerugian head di dalam saluran air.
4.      Kapasitas waduk dan tinggi jatuh.
Besarnya debit air (Q) dan tinggi jatuh (H) secara langsung akan berbanding lurus dengan kapasitas terpasang PLTA. Misalnya jika terdapat potensi debit air sebesar 115 m3 per detik dan tinggi jatuh sebesar 237 meter, maka kapasitas terpasang yang dapat dibangkitkan oleh PLTA tersebut adalah :
P = 9,8 x Q x H x nT x nG x nS
P – Kapasitas terpasang dalam kW
Q  = Debit air, dalam m3 per detik
H = tinggi jatuh, dalam meter
nT  = Effisiensi turbin, misalnya diambil 90 %
nG = Efisiensi generator, diambil 98 %
nS = Efisiensi saluran air, misalnya  90 %

maka,   P  =  9,8 x 115 x 237 x 0,90 x 0,98 x 0,90
=  212.023  kW =      212,02       MW.

Setelah diketahui berapa debit air yang diperlukan untuk membangkitkan listrik dengan kapasitas terpasang tertentu, maka selanjutnya dapat diketahui berapa besar kapasitas operasi waduk (life storage capacity) minimal yang dibutuhkan.
Rumus untuk mencari kapasitas operasi waduk adalah sebagai berikut : (misal untuk lama operasi turbin 6 jam per hari )
Kapasitas waduk : =  115 m3 x 3600x 6
                                 =  2.484.000 m3
Keuntungan dari pembangunan PLTA
Pembangkit listrik tenaga air tidak "menghabiskan" air, semua air dikembalikan ke sumber asalnya. PLTA dapat dibuat bekerja 24 jam, 7 hari seminggu. PLTA juga adalah sumber energi yang bersih, tidak menghasilkan polusi udarai. Pembangkit listrik, sekali di tempat, tidak menciptakan produk sampingan limbah dalam konversi mereka. Bendungan yang dibangun juga dapat menutup gerbang mereka dan menyimpan air untuk digunakan oleh PLTA ketika beban tinggi.

Kerugian Dari pembangunan PLTA
Seperti semua pembangkit listrik, pembangkit listrik tenaga air membutuhkan biaya yang sangat mahal untuk pembangunan, dan harus dibangun untuk standar yang sangat tinggi. Tingginya biaya berarti bahwa pembangkit harus beroperasi untuk waktu yang lama untuk menjadi menguntungkan. Pembangunan bendungan juga dapat menyebabkan banjir, yang berarti lingkungan dan habitat alami hewan, dan bahkan manusia mungkin hancur.

Pembangunan bendungan untuk pembangkit listrik tenaga air juga dapat menyebabkan banyak masalah akses air. Penciptaan sebuah bendungan di satu lokasi mungkin berarti bahwa aliran sungai tersebut turun dan tidak lagi memiliki kontrol aliran air. Hal ini dapat menjadi kontroveesi di tempat-tempat di mana negara-negara yang bertetangga berbagi pasokan air.